wilayah adat Rangan dan suku paser saing puak.

SEKILAS SEJARAH WILAYAH ADAT RANGAN      

1. Wilayah Adat Rangan

  Wilayah adat Rangan berada di Kabupaten Paser, Kec. Kuaro Kalimantan Timur. batas-batas wilayah adat Rangan ditandai oleh penanda alam seperti sungai, gunung, dan laut.  Sebelah utara wilayah adat ini berbagi batas dengan wilayah adat Modang yang ditandai oleh atang pekeso engket olong sampe utok, sanan murek umpu modang seii murek umpu rangan” (Sungai Pekeso dari muara sampai kepala sungai, kanan mudik milik Rangan, kiri mudik milik Modang). Sebelah baratnya berbagi batas juga dengan wilayah adat Modang dan sedikit wilayah Rantau Layung yang ditandai oleh “utok pekeso burung mandor atang perayan nyerapet olong setiu, imbang seii umpu rangan, imbang sanan umpu modang dan rantau layung” (kepala Sungai Pekeso, milir Sungai Perayan sampai muara Sungai Setiu, sebelah kiri milik Rangan, sebelah kanan milik Modang dan Rantau Layung). Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah adat Kuaro yang ditandai oleh “murek atang saii, lalo bawo tualang olo (benginso), mandor atang tiu sampe olong, mandor depo olong atang tempayang, sampe olong gemasin” (mudik Sungai Saii, lewat Gunung Tualang Olo (benginso), milir Sungai Tiu sampai muara, milir sampe muara Sungai Tempayang sampai muara Sungai Gemasin). Sementara sebelah Timur berbatasan dengan Olong Gemasin dan laut.

  Dari hasil penelusuran batas wilayah adat Rangan mengalami perubahan dengan masuk sistem administrasi desa. Perubahan ini terjadi di periode Pembakal Jinim pada tahun 1930-1945. Perubahan batas ini terjadi disebabkan adanya pengakuan wilayah oleh Pembakal Kuaro yang bernama Hemut yang merupakan pensiunan TNI dari Paser Damit. Agar tidak terjadi perselisihan maka di sepakati oleh pembakal Jinim, semenjak itu batas wilayah adat Rangan mengalami pergeseran yakni di sebelah Utara wilayah adat Rangan berbatasan dengan wilayah adat Modang dan Pekeso yang ditandai oleh Utok Truyan, Utok Seliang, Utok Kendarom Anak, Bawo Krokot Nangka, Bawo Biwang. Sebelah barat berbatasan dengan wilayah adat Sungai Terit yang ditandai oleh Bawo Biwang, Bawo Bule , Atang Prayan sampai Olong Saii, Awin Perra, Utok Sunge Rininim. Di sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah adat Kuaro yang ditandai oleh Utok Sunge Rinim, Utok Sunge Layung dan Atang Tiu. Serta di sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Kuaro.

Saat ini sembilan puluh persen wilayah adat Rangan sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Sementara delapanpuluh persennya sudah menjadi pemukiman transmigrasi dan lahan garapan transmigran.  Ada lima unit lokasi transmigrasi yang ada di wilayah adat Rangan. Kelima lokasi transmigrasi tersebut ada di wilayah adat Rangan pada periode 1980an. Komplek pemukiman transmigrasi terdapat di hulu-hulu sungai. Kelima unit transmigrasi tersebut yakni: Rangan Timur,Rangan Barat I(Padang jaya), Rangan Barat II (Kendarom), Modang Dalam (Kertabumi), Pekasau.

 

 2.Awal terbentuk wilayah adat Rangan

  Awal wilayah adat Rangan terbentuk belum bernama Rangan masih di sebut dengan nama Sunge Lomu yang merupakan bagian dari wilayah tak berpenghuni, Nama Sunge Lomu berasal dari nama sejenis pohon yang tumbuh di tepi sungai di daerah tersebut. Pohon Lomu merupakan pohon tempat bersarang lebah madu yang getah pohonnya bisa menjadi damar. Jauh pada masa sebelumnya Sunge lomu merupakan bagian wilayah kekuasaan kerajaan Padang kero semunte atau yang sekarang disebut Semuntai yang di pimpin oleh Datu Lintung yang mempunyai saudara bernama Datu Talin, setelah runtuhnya kerajaan Padang kero dan wilyah kerajaan pecah menjadi sembilan wilayah di pimpin oleh Sembilan penggawa, wilayah Sunge lomu masuk dalam wilayah kepenggawaan Adang di pimpin oleh Penggawa Datu Nansang lendot yang bertempat di Bawo Sempering sekitar gunung hijau, kemudian pada masa kerajaan paser belengkong wilayah yang tidak berpenduduk tersebut antara wilayah Are (sekarang tempayang hilir) di pimpin oleh Aji sunsong bergelar Kyai Are dan wilayah pandang kero(semunte) di pimpin oleh Aji kerta puang buyung.

          Agar daerah tersebut berpenduduk, pemimpin wilayah Semunte yang bernama Aji Kerta Puang Buyung dan pemimpin wilayah Are Aji Sunsong mengusulkan kepada raja negri Paser di Benuo, atau Paser Belengkong sekarang, yang bernama Sultan Adam, agar daerah Sunge Lomu dibentuk pemukiman baru.

 

3. Dana adalah pemimpin wilayah adat Rangan yang pertama 

  Penggawa Dana adalah nama pemimpin daerah Sunge Lomu yang pertama. Dana merupakan seorang tokoh yang berasal dari wilayah Batu Botuk yang diundang khusus dan diminta untuk menetap sekaligus memimpin daerah Sunge Lomu. Terpilihnya Dana sebagai pemimpin di Sunge Lomu berdasakan usulan Aji Kerta Puang Buyung dan Aji Sunsong yang disetujui oleh raja negri di Paser Belengkong Sultan Adam I sekitar tahun 1680-1705 Masehi. Dipilihnya Dana sebagai pemimpin di Sunge Lomu berdasarkan beberapa pertimbangan: Pertama, Batu Botuk merupakan daerah tua di Paser yang masyarakatnya memegang teguh hukum adat serta memiliki kelembagaan adat yang kuat; Kedua, Dana adalah Pangontuo Kampong (tetua kampung) di Batu Botuk yang memiliki jiwa pemimpin dan memiliki pengalaman dalam hal hukum adat. karena Sunge Lomu adalah daerah termuda dan masyarakatnya belum banyak, maka unsur kepenggawaan belum bisa diterapkan, melihat dari kondisi yang ada maka diambillah keputusan melalui bepekat (kesepakatan adat bersama) agar di lingkungan masyarakat Sunge lomu Dana menjabat sebagai Tuo Kampong. tetapi gelar kepenggawaan pada Dana tetap di kenal di lingkungan kerajaan negri, karna itu panggilan Penggawa tetap melekat padanya. 

Dana menikahi seorang perempuan bernama Dara Nannu' dari daerah Petete Turu, yang berada di wilayah Pekeso, dari pernikahan tersebut melahirkan 4 orang anak yaitu: Rembelow (perempuan), Jangga (laki-laki), Bassang (laki-laki) dan Tempun (perempuan). Dari keempat anaknya, hanya tiga orang yang menetap di Sunge lomu, Sedangkan Tempun anak yang keempat pergi meninggalkan daerah Sunge Lomu menuju Tana’ Balik, atau Balikpapan sekarang, karena menolak untuk dijadikan selir oleh raja Paser Belengkong.

 

Pada masa penggawa Dana memimppin wilayah adat Sunge lomu di bagi menjadi empat wilayah kelola yang di pimpin masin - masing tetua masyarakat.

- wilayah sei – sanan atang tempayang sampe utok (kiri – kanan sungai Tempayang sampai hulu) di kelola oleh MANANG dan keluarganya.

- wilayah Tanjung Bekom, sei – sanan atang mentawai utok, sei – sanan sunge buntal sampe utok ( tanjung bekon, kiri – kanan atang mentawi sampai hulu,kiri – kanan sungai buntal sampai hulu ) di kelola oleh NYIRA dan keluarganya.

- wilayah sei – sanan atang Rangan (kiri – kanan sungai Sunge lomu ) dikelola oleh PENGGAWA DANA sendiri dan keluarganya.

- wilayah sembika sanan sunge lomu, sei – sanan Kendarom sampe ekang diang Pekeso ( wilayah bersebelahan kanan sungai Rangan, kiri – kanan sungai Kendarom sampai berbatasan dengan pekaso ) di kelola oleh BONGKO dan keluarganya.

3.Perubahan nama sunge lomu menjadi Rangan

  Menurut sejarah lisan, saat wilayah tersebut mulai ada masyarakat yang bermukim dulu di perairan sungai lomu hidup seekor buaya ganas yang sering memangsa siapa saja yang melewati sungai itu dengan perahu, sedangkan sungai itu adalah jalur transpotasi masyarat satu-satunya maka tidak adalah masyarakat yang berani melewati. akhirnya pemimpin kampong dan masyarakatnya mengadakan bepekat (musyawarah) dan mendapat kesepakatan untuk mengundang Tempun Bayo (pawang buaya) dari daerah Adang sawa. Setelah Tempun Bayo datang dan berhasil mengatasi buaya tersebut dan perairan Sunge lomu terbebas dari serangan buaya kemudian tetua kampong mengadakan belian berse kampong dan berganti nama sunge lomu menjadi Serangan yang sekarang nama tersebut di persingkat menjadi Rangan dan kejadian tersebut di perkirakan pada masa awal Penggawa Dana sebagai pemimpin di sunge Lomu. 

 

SUKU ASLI (MASYARAKAT ADAT)

  Paser saing puak adalah Suku yang mendiami wilayah Rangan dan sekitarnya setelah menjadi kampong, arti dari nama suku sebut adalah keturunan gunung atau dalam bahasa lokal ‘ulun bawo’. penyebaran suku Paser saing puak cukup luas pada masa itu, yaitu meliputi daerah Paser Mayang, Gunung bule, Telawang, Batang Saing (Sunge Teruek/sungai terik ), Lolo, Muru hingga  ke Seratai. Paser saing puak sendiri terbagi menjadi dua yaitu Migi Saing Puak dan Migi Batang layung dan dari wilayah inilah masyarakat berasal yang sengaja di undang untuk menempati kampong Rangan saat baru di bentuk menjadi pemukiman. suku Saing Puak sendiri di yakini masyarakat Paser sebagai suku tua yang merupakan keturunan langsung DATU’ TUO PUTI SONGKONG pendiri kerajaan purba KUTA REKANTATAU yang pernah ada di kepala Sunge Pias anak Sunge Telake. Karna itu mereka meliki gelar bangsawan berbeda dari bangsawan kerajaan Paser belengkong yang menggunakan gelar Aji mereka- menggunakan gelar yang di pakai oleh leluhur mereka yaitu DATU’ untuk seorang laki - laki yang di tuakan atau pemimpin dan perempuan yang di tuakan atau istri pemimpin disebut DARA’ dan anak keturunan mereka yang laki-laki di sebut NALAU begitu juga anak keturunan mereka yang perempuan di sebut APE atau APEN. Pada masa jayanya kerajaan Paser Belengkong gelar kebangsawan Suku saing puak tidak ada lagi yang menggunakan karna pada masa itu masyarakat lebih condong mengenal orang – orang bangsawan yang bergelar Aji merupakan keturunan kerajaan Paser belengkong.

 

Sekilas Legenda yang ada di wilayah adat Rangan(legenda kuta rano)

  Di masyarakat adat Rangan ada legenda yang berkembang di kalangan para tetua, bahwa pada jaman dahulu ada sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah Rangan, di daerah Olong Kendarom (Muara Sungai Kendarom) di pimpin oleh seorang kepala suku yang bernama Datu Ogol. Suatu ketika Datu Ogol mengadakan Belian selama 4 malam dengan menyembelih kerbau dan dihadiri oleh seluruh rakyat, bahkan hingga masyarakat dari wilayah adat lainnya. namun karna ada prilaku pengunjung yang tidak senonoh maka tempat Datu ogol mengadakan belian terkena kutukan oleh sengiang Nayu’ (sengiang langit), yang akhirnya lokasi tempat belian tersebut kemudian berubah menjadi rawa dan ditumbuhi sejenis salak hutan (sunsung). Saat ini oleh masyarakat setempat daerah tersebut dikenal dengan nama Saing Losek (gunung becek). Beberapa masa kemudian sekitar wilayah itu pernah di tempati lagi oleh dua orang bersaudara, Gumas dan Gumos. Namun dua orang saudara tersebut tidak memiliki keturunan.

 

Hasil penelusuran Ibu Yurni sadariyah

Di lengkapi oleh Syahiddin/Edi junaidi

Narasumber:

1.      Alm Ensuk , Alm Nyune

2.     Alm jemenut, Alm Mulung Nonda

3.     Ibu Aji senah keturunan Aji Sunsong

 

CERITA MENGENAI DALAM ADAT YANG KONON PENAH ADA DI WILAYAH RANGAN

  Dalam adat adalah rumah besar yang mempunyai pungsi utama sebagai tempat padu (sidang adat) juga tempat bepekat (musyawarah) bagi pemimpin adat. Dan juga bisa sekaligus sebagai rumah hunian oleh kepala suku, Bangsawan atau pemurus kampong yang merupakan pemimpin hukum adat di suatu wilayah. Dalam adat bisa di bangun dengan gotong royong oleh pemimpin adat dan waraganya, namun bisa juga di bangun dengan biaya dari harta kekayaan pemimpin adat itu sendiri.

Berdasarkan penelusuran cerita lisan dalam adat suku Paser juga pernah ada masa dulu, dengan ciri - ciri berbentuk rumah panggung berbahan kayu ulin dengan luasan paling kecil di perkirakan 40 M bahkan bisa lebih, Ciri - ciri lain adalah bentuk atap rumahnya yang tinggi berbahan kayu ulin pipih lebar di sebut ‘kepang’ dalam bahasa adat, dan mempunyai atap memanjang seperti sayap lebih rendah dari atap rumah induk di kiri kanan dengan panjang tergantung dari jumlah keluarga yang menempatinya, dalam bahasa adat bentuk atap tersebut di namakan ‘piak nganak’ merupakan simbol mengayomi masyarakat sebagai mana induk ayam yang melindungi anaknya. kemudian ada tanda berupa tongkat pendek yang tegak berdiri di hujung bubungan atap dalam rumah induk yang di namai ‘mas togok’ sebagai simbol pemimpin yang tegak dalam keadilan saat mengambil keputusan, mempunyai teras atau di sebut ‘peseban’ dalam bahasa adatnya, pintu masuk yang lebar mempunyai dua daun pintu yang mempunyai makna bahwa pemimpin selalu menerima siapapun yang memerlukan bantuan baik itu nasehat atau penyelesaian masalah warganya, ruangan pertemuan disebut ‘belawang’ dan ruang tempat penyimpanan harta berada di langit-langit ruangan di sebut ‘parung’,’duyu’ ruangan tempat tidur ,’beliku’ dapur dan ‘sempatai’ atau teras belakang. adapun ornamen ukiran konon identik dengan motif tanaman rambat di sebut lempinak dan tanaman sulur disebut lepinding atau pucuk paku sebagai lambang kemakmuran, motif ukiran tersebut menunjukan tinggkatan sosial dalam masyarakat dinamai ukiran ‘Panji’.

konon juga berdasarkan penuturan tetua dalam adat dulu yang berbentuk panjang tersebut sering terjadi kebakaran yang menyebabkan banyak keluarga yang meninggal beserta harta benda yang ikut habis terbakar sehingga tetua masyarakat sepakat membangun rumah hunian terpisah demikian juga dalam adatnya pun di buat terpisah.

 

Dalam adat yang pernah berdiri di wilayah Desa Rangan

  Berdasarkan tutur lisan tetua masyarakat adat Rangan Dalam adat dulu ada di antaranya di wilayang hilir sunge Kendarom yang di miliki oleh Datu Ogol dalam adat tersebut dinamai sesuai nama pemiliknya yaitu Dalam Datu Ogol namun Dalam tersebut musnah di kutuk oleh sengiang nayu, kemudian setelah itu di wilayah bule yang di miliki oleh seorang panglima bernama Rinjan bergelar Simbuk bule dan habis terbakar oleh Bala Tabalong dan Kesunge saat di tinggalnya bertapa, dalam adat tersebut di namai Dalam Tukuk Rinjan, beberapa masa kemudian Penggawa Datu Nangsang Lendot mendirikan dalam adat di Bawo Sempering namun habis terbakar oleh bala luwangan yang menyerang dari gunung Sampi saat dia pergi membantu Rentou keturunan dari Datu lintung yang tengah berperang di semunte dengan bala Luwangan yang menyerang dari pesisir yang akhirnya negri padang kero di Semunte takluk, dalam adat tersebut di namai Sesuai dengan nama Pemiliknya yaitu Dalam Nansang lendot. Pada masa kerajaan Paser Belengkong seorang pemimpin wilayah bernama Aji Sunsong pernah membangun dalam adat di wilayah Are (tempayang hilir) namun hancur tidak terawat setelah di tinggalkan karna wilayah Are telah terjadi wabah menular, dalam tersebut di beri nama Dalam Sorga Aji belanda karna pemiliknya Aji Sunsong mempunyai bulu berewok yang lebat warna kemerahan seperti orang Belanda pada masa itu, pada masa Penggawa Dana menjadi pemimpin di wilayah adat Rangan tidak di ketahui oleh para narasumber saat dalam penelusuran apakah pernah ada di bangun dalam adat.

 

Di kutip dari penelusuran Ibu Yurni Sadariyah

Di lengkapi oleh Edi junaidi / Syahiddin

Narasumber:

1.      Almr Ensuk(Kenadarom). Batas wilayah adat

2.     Almr Jemenut(pekeso). Batas wilayah adat

3.     Almr Mesrin(tempayang). wilyah Kendarom

4.    Mena Jelam(jelam). Bawo sempering

5.     Almh Togau(rangan). Datu lintung dan Datu Talin, Sorga Aji Belanda  

6.    Almr Gedu(kemadi). Datu Nansang lendot

7.     Aji Senah/Mena senah(kuaro).Aji Sunsong

8.    Arpansyah(batu botuk).Bentuk dalam adat

9.    Uda jantes(semunte).Bala luangan


Komentar